Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Oleh:
Eka Cahyowati
Tidit..tidit..tidit…..
Suara Alarm dari HP membangunkan Marwa yang sedang terlelap. Subuh yang gerimis ini begitu melenakan dirinya, hingga tak ingin beranjak dari empuknya kasur dan hangatnya selimut bergambar dalmation kesayangannya.
“Ish…apa-apaan ini, orang masih tidur enak.”
Marwa benar-benar mengabaikan alarm itu, padahal ia tahu saat itu sudah waktunya ia bangun dan melaksanakan kewajiban subuh sebagai muslimah.
Dilihatnya kembali layar HP berwarna biru langit tersebut. Di layar menunjukkan pukul 05.00. Biasanya ia segera beranjak dari peraduan lalu menunaikan sholat subuh. Namun, subuh itu entah setan darimana asalnya hingga ia tergoda untuk melanjutkan tidurnya itu. Sebenarnya ada perasaan was-was dalam hatinya, rasanya ia tak tega untuk meninggalkan kewajibannya, namun tak seperti biasanya, dorongan hati untuk terus tidur terngiang-ngiang mengantarkannya hingga ia telah kembali memejamkan mata ke alam fantasi bawah sadarnya.
Namun, tiba-tiba goncangan yang maha dahsyat membangunkan tidurnya subuh itu.
Grubuk..grubuk..grubuukk…dan Marwa pun terjaga.
“Ah gempa ya…tolong..toloooong…gempa…gempa!”
Hatinya mendadak tercekat. Panik karena goncangan yang sungguh luar biasa dahsyat. Seketika itu wajahnya pucat, peluh mengucur dari sekujur tubuhnya. Kakinya lemas seketika seakan tak mampu menopang tubuhnya. Apalagi ketika tersadar ia berada di tempat yang asing.
“Dimana ini?” gumamnya dalam hati.
Sekelilingnya tak nampak apa-apa. Hanya gumpalan awan putih tebal yang membuat ia tak mampu melihat apapun di sekitarnya. Ia benar-benar sendirian. Sendirian tanpa apapun, tanpa suara sedikitpun, yang ia rasakan hanya hampa, sekeliling yang diselimuti awan putih pekat dan telinga yang berdengung akibat tak ada suara sedikitpun di tempat tersebut.
“Mama….” Ia berteriak sekuat tenaga memanggil siapapun yang ia ingin panggil. Berharap ada seseorang yang akan menolongnya. Namun kepanikan kembali menyergapnya. Sebab suaranya tak ada lagi. Kembali ia coba memanggil mamanya, “Ma…Ma…Ma…” namun tetap tak bisa. Suaranya hilang tak terdengar sedikitpun. Ditengah kebingungan, kepanikan, dan telinga yang semakin berdengung dalam kesendirian di tempat nan asing itu, rasanya ia ingin berlindung. Mencari tempat bersembunyi atau memeluk seseorang yang ia kenal. Namun semua sia-sia. Semakin ia berlari, semakin ia tak menemukan ujung dari gumpalan awan putih yang menebal tersebut. Hingga ia tersungkur lemas tak berdaya menahan takut yang teramat sangat itu.
Kembali ia teringat akan peristiwa subuh tadi. Ia berpikir inikah hukuman Tuhan bagiku. Hanya karena aku lalai tak menjalankan perintah-Nya? Ya Tuhan beri petunjukmu jangan biarkan hamba sendirian di sini. Hamba takut ya Allah, hamba bertobat ya Allah. Ampuni hamba. Tetesan air mata deras mengucur dari kelopak matanya. Sungguh ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Sambil terus berdoa, ia memohon kepada Tuhan untuk menolongnya keluar dari keadaan mencekam itu. Lama ia menangis berharap keajaiban dari Tuhan akan menolongnya sesegera mungkin. Sampai suatu saat Tuhan mendengar doanya. Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang menyinari pandangannya. Seketika ia merasakan kehangatan dari cahaya tersebut. ada secercah harapan di hati Marwa. Seketika itu ia mengucap syukur “Alhamdulillah” dan ia sadar bahwa saat itu juga suaranya telah kembali. Senang hatinya dan terus mengucap syukur. Ia berpikir mungkin Tuhan mengampuninya dan segera mengeluarkan ia dari tempat yang ia sendiri tak tahu namanya.
Namun, perasaan lega itu tak bertahan lama. Dibalik sinar tersebut seketika nampak pemandangan yang tak asing baginya.
“Itu kan rumah aku. Ah, itu Ayah, Mama, dan lainnya” ya, di sinar itu Marwa melihat anggota keluarga serta beberapa temannya. Namun di gambar tersebut, mereka semua nampak sedang menangis. Begitu sedihnya sehingga memilukan bagi siapapun yang melihat suasana tersebut. kembali ia coba memanggil mereka satu per satu, namun sia-sia, sebab mereka seakan tak mendengar teriakan Marwa.
Sampai akhirnya ia lelah. Percuma ia memanggil, sebab tak ada gubrisan dari mereka sedikitpun. Ia penasaran apa sebenarnya yang terjadi di rumahnya. Ia terus menyusuri kegiatan yang berlangsung di rumahnya. Ia tatap setiap sudut yang bergiliran ditampilkan oleh sinar tersebut persis seperti shotingan film yang berganti dari suatu tempat ke tempat lain. Seketika hatinya tercekat, kembali peluh membajiri tubuhnya. Pucat pasi kini nampak menghiasi wajahnya. Hatinya seketika mengelu, tubuhnya berdesir seakan aliran darahnya membeku tak mengalir lagi. Nampak matanya nanar melihat seonggok tubuh tergeletak tertutup kafan yang dikelilingi orang-orang yang nampak melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Dengan berjuta tanya dan berbagai pikiran panik ia berharap seseorang membuka kafan tersebut, agar ia tahu siapa sosok dibaliknya. Dan seketika itu ia mematung, tubuhnya kaku, tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Marwa berlinang air mata, tak tahu harus melakukan apa lagi. Masih tak percaya, tapi ia kini sadar telah berada jauh dari keluarga. Berada di alam yang berbeda denga mereka semua, sebab baru saja ia melihat sosoknya sendiri yang berada di balik kafan nan putih tersebut.
*
“Marwa…Marwa..Marwa…”
Kembali ia merasakan tubuhnya berguncang. Namun tidak sehebat guncangan sebelumnya. Terasa olehnya guncangan itu lembut, hangat, namun penuh ketegasan. Marwa heran, ia takut membuka matanya, ia tak tahu lagi pemandangan apa yang akan ia temui. Namun, guncangan itu tak berhenti. Kali ini ia pun mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencoba untuk membuka mata. Seketika itu ia terbelalak. Marwa mengusap-usap matanya.
“Bangun Marwa. Sudah hampir pagi. Kamu belum sholat subuh kan?”
Marwa tak percaya pada apa yang ia lihat saat itu. Ia cubit lengannya, ia tepuk-tepuk pipinya membuat sel-sel pada kulitnya bereaksi dan mengantarkan stimulus bertanda bahwa apa yang ia lakukan itu menimbulkan sakit untuk kulitnya. Seketika itu ia peluk mamanya, membuat mama bertanya-tanya apa yang terjadi pada putrinya tersebut. Namun, sebelum bercerita panjang lebar, ia segera melihat layar HP-nya.
“Astagfirullahalazim, pukul 05.30 Ma. Marwa sholat dulu ya.”
“Eh kamu kenapa nak?” mama keheranan melihat tingkah putrinya itu.
Tapi Marwa belum bernafsu menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Matahari mulai terbit, pertanda waktu subuh hampir habis. Baginya kini hanya satu. Ia ingin segera mengambil wudhu dan bergegas melaksanakan kewajibannya subuh itu.
Marwa tersadar, tak ada alasan untuk menunda-nunda pekerjaan, apalagi jika itu merupakan kewajiban. Sebab kita tak tahu apa yang akan terjadi jika kita menunda pekerjaan itu. Jangan sampai kita menyesal, jangan sampai kita merasa terlambat, karena waktu tak pernah bisa terulang. Sejak saat itu Marwa senantiasa mengerjakan semua pekerjaan yang bisa ia selesaikan. Tak ada kata menunda apalagi untuk melaksanakan kewajiban. Mimpi yang datang terhadapnya teramat buruk jika harus menjadi nyata. Sekarang ia sadar betapa berharganya waktu untuk diisi dengan kegiatan bermanfaat. Jadi, selagi kita mampu, kerjakanlah apa yang harus kita kerjakan. Jangan sia-siakan waktu, karena sekaya apapun, kita tak pernah bisa membeli sebuah waktu.
Oleh:
Eka Cahyowati
Aku mengenalnya sejak beberapa bulan yang lalu. Tepat di depan bangunan itu. Bangunan yang nampak megah dengan kubah yang setia memayunginya. Di masjid itu pula, ia selalu menyerahkan jiwanya pada sang pemberi kehidupan. Ia selalu nampak khusyuk dengan lantunan kalimat suci yang nampak begitu lancar, deras mengalir dari bibirnya. Sementara aku, dari tempat yang berbeda, turut mengaminkan doanya. Sebab aku tahu, ia menyelip doa untukku. Pasti!
Sejak hari itu, hari dimana aku mengenalnya, aku kerap memanggilnya kakak. Padahal kami seumuran. Entah mengapa, aku senang bersahabat dengannya. Setiap sabtu sore ia selalu berada di masjid itu. Dengan sabar ia menanti siapa saja yang hendak mampir di lapak buku sederhananya. Entah membeli atau hanya sekadar membaca-baca saja.
“Kak, ada buku baru ga ?”
“Banyak…silahkan dilihat-lihat dulu.”
Disela aku melihat buku itulah, aku mendapat sentilan kecil yang membuat aku gelisah memikirkan semua ini.
“Dek, sepertinya kamu cocok juga ya kalo pake kerudung.”
Ah, kak Rahmat. apakah ia sengaja menyinggungku? atau aku yang terlalu serius menanggapi kalimat yang ia sendiri refleks mengucapkannya. Ya, selama ini hubungan kami selalu harmonis dan hangat. Tapi, untuk kali ini aku benar-benar bingung. Apa maksudnya ia menyuruhku berkerudung? Padahal ia jelas-jelas tahu kalau aku adalah gadis berkalung salib.
Besok adalah 14 Februari. Dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Hari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang rela mengorbankan jiwanya demi kebahagiaan umat. Masih seperti tahun-tahun kemarin, aku turut merayakan euforia valentine. Lengkap dengan nuansa pink dan manisnya coklat yang kami bagikan kepada orang-orang terkasih. Menurutku tidak ada salahnya memperingati hari ini, meski semakin hari kontroversi Valentine semakin ramai diperbincangkan. Ya, bagiku…Valentine bukan tentang agama siapa, melainkan bagaimana mengasihi sesama dengan cara kita masing-masing dengan segenap hati.
Aku sudah menyiapkan semuanya. yang aku tahu, ini hari kasih sayang. Mereka selalu bilang, kasih sayang tak perlu dirayakan. Setiap hari kita wajib berkasih sayang, tapi anehnya selalu saja ada air mata yang tumpah setiap harinya.
Aku mulai membagikan coklat-coklat buatanku pada teman-teman. Ekspresi mereka bermacam-macam. Ada yang ikhlas menerima, namun ada juga yang terlihat ragu menerimanya. Seperti Kak Rahmat…..
“Ini coklat valentine?”
“Kalau ia, lantas kenapa?”
“Maaf, bukannya aku menolak. Tapi kau tau kan, kalo aku gak merayakan valentine?”
“Apakah semua kebaikan yang aku lakukan harus dianggap sebagai kado valentine? Kalau begitu aku tidak boleh melakukan kebaikan untukmu.. Dan akhirnya hari ini terlewati tanpa melakukan satu kebaikan pada orang yang aku sayangi?”
“Maria…jangan mulai lagi perdebatan itu!”
“Baik kak, aku stop. Kalau begitu anggap aku tidak pernah merayakan hari ini, dan terimalah coklat ini. Coklat ini untukmu, Kak!”
Bahkan di hari ini saja, aku benar-benar tak bisa membagi kasih sayang untuk Kak Rahmat. Hanya karena aku termasuk orang-orang yang merayakan hari kasih sayang. Tuhan, mengapa harus Kak Rahmat. Tak bisakah perasaan ini kuberi pada orang yang menerima aku apa adanya? Tanpa memandang agama yang aku anut?
Aku melihat butiran kaca di matanya. Ah, Kak Rahmat, apa kau menangis. Apa yang kau tangisi? Tentang coklat ini? Atau tentang aku yang tak kunjung kau lihat berkerudung seperti pintamu?
“Kak, Maria mohon, terima coklat ini. Maria ikhlas, Kak!”
“Ah..Maria. Kau jangan merengek. Tenanglah, aku akan menerima coklatmu. Kau benar, ini hanya sekadar coklat. Lagipula aku juga penasaran, bagaimana coklat buatan tanganmu itu.”
“Iya kak silahkan dicoba. Siapa tahu besok Kak Rahmat mau lagi, besok harganya Lima ribu rupiah ya Kak!”
Kami tergelak. Aku merasa lega. Setidaknya ia bisa merasakan coklat yang aku buat dengan sejuta kasih sayang itu. Ya, akhirnya Kak Rahmat menerima coklat ini, meski dengan alasan yang cukup menggelitik untuk kupahami.
Ia mulai membuka bungkusan coklat bergambar hati itu. Sret..sreet.. Suara kertas pembungkus nampak jelas sekali di pendengaranku. Namun, belum sempat Kak Rahmat mencoba coklat itu tiba-tiba……
“Rahmat, kamu bisa adzan ga?”
“Iya, bisa. Memangnya kenapa Pak?”
“Tolong kamu gantikan bapak sebentar ya. Suara bapak sedang ga bagus. Sakit tenggorokan. Tolong ya nak Rahmat!”
“Oh ia, tentu saja Pak.”
“Maria…sebentar ya. Aku adzan dulu.”
Segera ia berlari menuju bangunan itu. Meninggalkan aku di pelatarannya yang malam itu terasa sepi. Beberapa saat kemudian terdengar suara Kak Rahmat membahana dengan sangat indah. Suaranya bulat, lantang, memecah kesunyian yang sedari tadi mendominasi malam.
Aku begitu haru, suara Kak Rahmat memang merdu saat melafadzkan seruan kepada sesamanya untuk segera menunaikan kewajiban mereka.
Aku benar-benar tak dapat memahami perasaanku saat ini. Aku belum bergeming dari pelataran bangunan itu. Aku tergugu, diam masih di pelatarannya. Masih menikmati lantunan adzan nan indah sembari menatap coklat yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
Aku tak tahu bagaimana perasaan Kak Rahmat menerima coklat pemberianku. Yang pasti aku ikhlas memberikan kepadanya, hasil jerih payahku, ungkapan sayang dariku. Ya, apapun tanggapanmu……coklat ini untukmu, Kak Rahmat.
Kendari, 14 Februari 2012…Miss Eka :)